Resume skripsi

RESUME SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI MAHASISWA PAI/FTIK IAIN PONTIANAK DI PERPUSTAKAAN IAIN PONTIANAK.

1. COVER/SAMPUL
    A. Judul skripsi
    " PELAKSANAAN KEGIATAN PEMBELAJARAN KITAB KUNING DI PONDOK         PESANTREN  SAYYIDUL QURA PARIT NA'IM TAHUN PELAJARAN 2016/2017".
    B. Penulis : M. MADANI

2. LEMBARAN MOTTO
"Memulai dengan penuh keyakinan, Menjalankan dengan penuh keyakinan, Menyelesaikan dengan penuh kebahagiaan "
Aku percaya bahwa apapun yang aku terima saat ini adalah yang terbaik dari Tuhan dan        aku percaya Dia akan selalu memberikan yang terbaik untukku pada waktu yang telah            Dia tetapkan ( M.MADANI ).

3. ABSTRAK
 M. Madani, pelaksanaan kegiatan pembelajaran kitab kuning di pondok pesantren sayyidul qura parit nai'im tahun pelajaran 2016/2017: fakultas tarbiyah dan ilmu keguruan jurusan pendidikan agama Islam institut agama Islam Pontianak, 2015.
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang tertua di Indonesia. Sejak berdirinya pesantren telah menunjukkan peranannya dalam mensyiarkan agama Islam serta ilmu pengetahuan. Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang memiliki ciri khas tertentu dalam kegiatan pembelajaran nya, dan ciri khas inilah yang membedakan pesantren dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) kitab-kitab yang dipelajari di pondok pesantren sayyidul qura parit na'im tahun pelajaran (2016/2017;2) metode pembelajaran kitab kuning di pondok pesantren sayyidul qura parit na'im tahun pelajaran 2016/2017.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif, mengenai pelaksanaan kegiatan pembelajaran kitab kuning di pondok pesantren sayyidul qura parit na'im tahun pelajaran 2016/2017. Peneliti menggunakan teknik komunikasi langsung dengan alat pengumpul data berupa pedoman wawancara, metode observasi dan penelitian juga menggunakan teknik dokumentasi. Dari data tersebut peneliti melakukan teknik penyajian data, reduksi data dan kesimpulan.
Dari hasil penelitian peneliti menemukan bahwa pertama, kitab-kitab yang dipelajari di pondok pesantren sayyidul qura parit na'im adalah Fiqih ( Sullam Taufik dan Fathul Qorib ), Tauhid ( Al Aqaidu Addaniyah dan Jawahirul Kalamiyah ) Kebahasaan Nahwu ( Al Jurumiyah dan 'imtiti ) Shorof ( Al Manshuud l, At Tashrifiyah, dan Hillu Al Ma'quad Min Nazdamu Al Kanqshuu ) dan I'laal ( Qawaidul I'laal ) Hadist ( Tanqidul Qaul dan Al Ushfuriyah ) Muamalah ( Ta'limul Mutaallim dan Taisurul Khallaaq ). Kedua metode pembelajaran kitab kuning di pondok pesantren sayyidul qura parit na'im menggunakan metode sorogan dan metode bandongan.
Kata kunci : Pembelajaran Kitab Kuning di Pondok Pesantren.

4. DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
MOTTO
PERSEMBAHAN
DAFTAR ISI
DAFTAR LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
BAB I PENDAHULUAN
          A. Latar belakang penelitian
          B. Fokus penelitian
          C. Tujuan penelitian
          D. Manfaat penelitian
BAB II PEMBELAJARAN KITAB KUNING DI PESANTREN
          A. Penelitian terdahulu yang relevan
          B. Pengertian kitab kuning
          C. Jenis kitab kuning di pondok pesantren
          D. Ciri-ciri kitab kuning
          E. Metode pembelajaran kitab kuning
          F. Kiai dalam pembelajaran kitab kuning
          G. Santri dalam pembelajaran kitab kuning
BAB III METODE PENELITIAN
          A. Pendekatan dan jenis penelitian
          B. Setting penelitian
          C. Sumber Data dan Data
          D. Teknik pengumpulan Data
              1. Observasi
              2. Wawancara
              3. Dokumentasi
          E. Teknik Analisis Data
          F. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
          D. Tahap Penelitian
BAB IV PAPARAN DAN PEMBAHASAN
          A. Gambaran umum lokasi penelitian
          B. Paparan data
               1. Kitab-kitab yang dipelajari di pondok pesantren sayyidul qura
               2. Metode pembelajaran kitab kuning di pondok pesantren sayyidul qura
          C. Pembahasan hasil Penelitian
          D. Temuan penelitian
BAB V PENUTUP
          A. Kesimpulan
          B. Saran-saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

5. BAB
BAB I PENDAHULUAN
BAB II PEMBELAJARAN KITAB KUNING DI PESANTREN
BAB III METODE PENELITIAN
BAB IV PAPARAN DATA DAN DATA
BAB V PENUTUP

6. SUB-SUB BAB
BAB I PENDAHULUAN
        A. Latarbelakang Penelitian
        B. Fokus Penelitian
        C. Tujuan Penelitian
        D. Manfaat Penelitian
BAB II PEMBELAJARAN KITAB KUNING DI PESANTREN
        A. Penelitian Terdahulu yang Relevan
        B. Pengertian Kitab Kuning
        C. Jenis Kitab Kuning di Pondok Pesantren
        D. Ciri-ciri Kitab Kuning
        E. Metode Pembelajaran Kitab Kuning
        F. Kiai Dalam Pembelajaran Kitab Kuning
        G. Santri Dalam Pembelajaran Kitab Kuning
BAB III METODE PENELITIAN
        A. Penelitian dan Jenis Penelitian
        B. Setting Penelitian
        C. Sumber Data dan Data
        D. Teknik Pengumpulan Data
        E. Teknik Analisis Data
        F. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
        G. Tahap Penelitian
BAB IV PAPARAN DATA DAN PEMBAHASAN
        A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
        B. Paparan Data
        C. Pembahasan Hasil Penelitian
        D. Temuan Penelitian
BAB V PENUTUP
        A. Kesimpulan
        B. Saran-saran

7. 10 KUTIPAN PENULIS
     1) Pesantren itu terdiri dari lima elemen yang pokok, yaitu: kiai, santri, masjid, pondok dan pengajaran kitab-kitab Islam klasik. Kelima elemen tersebut merupakan ciri khusus yang dimiliki pesantren dan membedakan pendidikan pondok pesantren dengan lembaga-lembaga pendidikan dalam bentuk lain ( Nurcholish Madjid. 2002:63 ).
    2) Literatur-literatur tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
     1. Kitab-kitabnya menggunakan bahasa Arab
     2. Umumnya tidak memakai syakal ( tanda baca,atau baris ) bahkan tanpa memakai titik            koma
     3. Berisi keilmuan yang cukup berbobot
     4. Metode Penulisannya dianggap kuno
     5. Lazimnya dikaji dan dipelajari di pondok pesantren
     6. Banyak diantara banyak berwarna kuning
  ( Muhaimin (1993:300) )
    3) Kitab klasik ( Al Kutub  Al Qadimah ) karena kitab yang ditulis merujuk pada karya-karya tradisional ulama berbahasa Arab yang gaya dan bentuknya berbeda dengan buku modern. Dan karena rentang kemunculannya sangat panjang maka kitab ini juga disebut dengan kitab kuno. Bahkan kitab ini, dikalangan pesantren juga kerap disebut dengan kibat gundul
( Endang Turnudi (2004:56) )
    4) Evaluasi adalah penilaian atas tugas, kewajiban dan pekerjaan. Cara ini dilakukan setelah kajian kitab selesai dibacakan atau disampaikan. Dimasa lalu cara ini disebut imtihan, yakni suatu pengujian santri melalui munaqasyah oleh para guru atau kiai ulama dihadapan forum terbuka. Selesai munaqasyah tentukanlah ketulusan. ( Sa'id Aqil Siradj.dkk.: 284 )
   5) Menurut asal-usul nya, kata kiai dalam bahasa Jawa dipakai untuk tiga jenis gelar yang saling berbeda.
     1. Sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang dianggap keramat
     2. Gelar kehormatan untuk orang-orang tua pada umumnya
     3. Gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki atau menjadi pemimpin pesantren dan mengajar kitab-kitab klasik kepada para santrinya selain gelar kiai ia juga disebut seorang alim. ( Zamakhsyari Dhofier, 1994:55 )
   6) Gelar yang terakhir merupakan gelar yang memiliki arti yang sama dengan guru, pendidik atau sebutan lainnya. Dalam konteks pendidikan Islam " pendidik " sering disebut dengan " murabbi l, muallim, muaddib ". Disamping itu, istilah pendidik kadang kala disebut melalui gelarnya, seperti istilah " Al Ustadz dan Asy Syaikh " ( Muhaimin dan Abdul Mujib (1993:167))
   7) Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia guru diartikan sebagai orang yang pekerjaannya ( mata pencaharian ) mengajar. Akan tetapi sesederhana ini kah arti guru? Menurut Muhibbin, guru adalah seseorang yang menularkan pengetahuan dan kebudayaan kepada orang lain ( bersifat psikomotor ), dan yang menanamkan nilai dan keyakinan kepada orang lain. ( Muhibbin Syah (2004:223) )
   8) Bahwa seorang guru adalah seseorang yang memiliki tanggungjawab yang besar terhadap anak didiknya. Tanggungjawab adalah berupa mengajarkan kepada peserta didiknya ilmu yang bermanfaat dan berguna seluas-luasnya bagi kepentingan seluruh umat manusia ( Husein Syahatah (1999:46) )
   9) Ciri-ciri kitab kuning yang lain juga diungkapkan oleh Mujamil, yaitu pertama, penyusunannya dari yang lebih besar terinci ke yang lebih kecil seperti kitabun, babun, fashun, farun dan seterusnya. Kedua, tidak menggunakan tanda baca yang lazim, tidak memakai titik, koma, tanda seru, tanda tanya, dan lain sebagainya. Ketiga selalu digunakan istilah ( idghom ) dan rumus-rumus tertentu seperti untuk menyatakan pendapat yang kuat dengan memakai istilah Al Madzhab, Al Ashlah, As Shalih, Al Arjah, Al Rajih, dan seterusnya untuk menyatakan kesepakatan antar ulama beberapa madzhab digunakan istilah Ijmaan, sedangkan untuk menyatakan kesepakatan antar ulama dalam satu madzhab digunakan istilah ittifaaqan. ( Sahal Mahfudh (1994:264) )
   10) Ada beberapa kelebihan dari metode sorogan yang secara didaktif-metodik terbukti memiliki efektivitas dan signifikansi yang tinggi dalam mencapai hasil belajar. Sebab metode ini memungkinkan kiai, ustadz mengawasi, menilai dan membimbing secara maksimal kemampuan santri dalam penguasaan materi ( Mujamil Qamar: 146 )

8. DAFTAR PUSTAKA
    1) Nurcholish Madjid. 2002. Modernisasi Pesantren. Jakarta. Ciputat Press.
    2) Muhaimin. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung: Trigenda Karya.
    3) Endang Turmudi. 2004. Perselingkuhan Kiai dan Kekuasaan. Yogyakarta:LkiS
    4) Sa'id Aqiel Siradj. Dkk.2004. Pesantren Masa Depan. Cirebon: Pustaka Hidayah.
    5) Zamakhsyari dhofier.1994. Tradisi Pesantren. Jakarta:Lp3ES.
    6) Muhaimin dan Abdul Mujib.1993. Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung: Trigenda Karya.
    7) Muhibbin Syah. 2004. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
    8) Husein Syahatah. 1999. Quantum Learning Plus Sukses Belajar Cara Islam. Bandung: Mizan.
    9) Sahal Mahfudh. 1994. Nuansa Fiqih Sosial. Yogyakarta. LkiS
    10) Mujamil Qamar. 2000. Pesantren dan Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi. Jakarta: Erlangga.

































Komentar